About Me
Hello gays, apa
kabar? Semoga kalian selalu sehat dan bahagia dimanapun kalian berada (Basa –
Basi). Today, aku bakal menceritakan, umm… lebih tepatnya mencurahkan sisi lain
dari kehidupanku yang membuatku bisa seperti sekarang. Sepertinya agak membosankan
dan kurang menarik, tapi coba deh dibaca, mungkin kalian bisa mengambil sisi
positif dari ceritaku.
So, let’s go.
Dari luar mungkin kesan pertama kalian aku orangnya
cuek, pendiam, sombong, nerd (apalagi sekarang mataku minus jadi harus pake
kacamata), penyendiri. Tapi ga semua itu benar kok malah sebenarnya dirumah aku
adalah orang yang cerewet, banyak bicara, suka mengalah, pengertian (iya,
beneran), aktif, ga bisa diem deh pokoknya. Itu juga kalo kalian belum kenal
sama aku, kalo udah kenal yah ga bisa ditutupin lagi sisi luarnya.
![]() |
Aduh imutnya diriku yang masi kecil ini :v
Masa
kecilku cukup indah (engga juga sih) dengan keluarga sederhana yang aku miliki,
Papa, Mama, dan seorang kakak laki – laki yang baik (tapi jail). Aku lahir di
Kalabahi, Pulau Alor, Nusa Tenggra Timur. Aku dan kakakku sering menghabiskan
waktu berdua, orangtuaku dulunya sering pulang saat sore hari dan kami hanya
ditemani seorang pembantu bernama Mince. Aku dan kakakku tak terbiasa pergi
keluar rumah, hal ini dulunya membuat kami jarang bersosialisasi. Memang sejak
TK aku kesulitan bergaul dengan orang lain, selain itu, diriku ini memang sulit
mengambil keputusan, sering merasa takut mencoba hal baru dan tak mau
disalahkan, mungkin karena aku memiliki hati yang kecil (uwaaaa). Aku hanya
memiliki seorang teman bernama Michelle, dia adalah anak pemilik toko roti
terkenal beretnis cina disana. Selain pintar dia juga sangat rendah hati, dia
yang mengajariku banyak hal, mulai dari membantuku belajar menulis, menghitung,
menggambar, dan lainnya. Bahkan tanpa semangat darinya mungkin diriku yang
sekarang bukan apa – apa, tanpa keahlian, tanpa kepintaran dan tidak percaya
terhadap diri sendiri.
Di tahun 2011, saat
aku berumur 8 tahun tepatnya satu minggu setelah hari ulang tahunku, kami
pindah ke Solo, Jawa Tengah. Di Solo, untuk pertama kalinya aku masuk sekolah
negeri, dimana para siswanya terdiri dari berbagai macam agama. Sebelumnya aku
bersekolah SD GMIT 01 KALABAHI, GMIT merupakan singkatan dari Gereja Masehi
Injili di Timor yang merupakan sekolah swasta dengan mayoritas beragama Kristen
serta katolik. Pada hari pertama aku serasa ingin menyerah, mengapa? Jelas
karena aku tidak menguasai bahasa jawa.
Aku lebih memilih diam dan mendengarkan perkataan mereka sekaligus membuat
kamus raksasa dalam otakku. Awalnya aku hanya memiliki seorang teman bernama
Desi yang sangat baik hati, sabar, pengertian dan selalu mengajariku banyak
hal, darinya aku belajar untuk berani mencoba hal baru yaitu memulai terlebih
dahulu seperti mengajak berkenalan.
Setahun
kemudian aku pindah ke Klaten. Di sekolah dasar yang baru, aku langsung
memiliki banyak teman, ya, aku mengikuti saran Desi cara menjadi teman yang
baik. Saat itu aku juga ditunjuk beberapa kali untuk mewakili sekolah dalam berbagai
lomba (walau pada kenyataan semuanya tak pernah kumenangkan, hehe) contohnya : Lomba catur, Siswa Teladan, Lomba
cipta pantun, dan lainnya. Selain akademik aku juga lincah dalam berolahraga,
tentunya karena tubuhnya yang (bisa dibilang) kurus, bahkan berat tubuhku tidak
mencapai 50 kg. Sejak SD aku juga selalu
berambisi meraih posisi puncak yaitu selalu menjadi yang terbaik (dalam hal ini
peringkat pertama, ambisius sekali yaaa…).
Di
masa SMP, diriku yang sekarang tentu jauh berbeda ketika kecil. Berbeda dengan
sebelumnya, sekarang aku lebih berani untuk berbicara didepan umum (walau
kadang masih grogi), memiliki banyak teman dan tentunya lebih berpikir dewasa.
Namun, sifat ambisius dalam diriku masih tak dapat kuhilangkan dan hal ini
sering menyebabkan stress berkepanjangan. Sifat egois dan tak mau kalah masih
belum dapat aku hilangkan, tapi beruntung aku memiliki banyak teman yang selalu
ada untukku seperti Maya, Vina, Febi, Azizah, Himma, Galuh, Safira, Anik, Anin
dan masih banyak lagi.
Bukan orang yang populer, berusaha menjadi
yang terbaik (di bidang akademis), tidak terlalu mencolok, dan memilih
kehidupan SMP pada umunya. Oh iya, aku juga sempat menjadi ketua
ekstrakurikuler paduan suara di SMP ku selama satu periode, aku memang suka
menyanyi (terlebh untuk diriku sendiri :v) awalnya aku mengikuti kegiatan
paduan suara di gereja selama ±5 tahun dan hal itu menumbuhkan rasa
sukaku dalam dunia tarik vokal, dengan suara sopran pas – pasan aku rajin
mengikuti latihan paduan suara.
Untuk pertama kalinya aku memenangkan juara 3
lomba berpidato bahasa inggris (English Speech) tingkat SMP se-Kabupaten Klaten.
Jika boleh jujur, awalnya aku ragu dan sempat berpikir untuk mundur, daripada
mengambil resiko dan malah memalukan nama sekolahku. Tapi, aku berpikir “Kalo
nggak sekarang trus kapan?, kesempatanku Cuma kali ini” dan teman – temanku
mendukungku untuk melakukan yang terbaik semaksimal mungkin, dan pada akhirnya
usahaku tidak sia – sia.
![]() |
With My Mother, who always support me anytime.
Tak terasa dalam
beberapa bulan sudah duduk di bangku SMA sedangkan impian yang ingin aku capai
belum ada. Tapi tentunya cita – cita serta impianku tidak jauh dari kata “THE
BEST OF THE BEST”. Dan dari sekarang
tentunya aku harus semakin giat belajar, berdoa dan tentunya tidak melupakan
jasa tak terkenang teman – temanku yang telah mendukungku hingga sekarang
(lebay deh). Thanks gays, lafyuu :*
With Honest Of
Heart, Prasti. See you later.
(DON’T FORGET TO COMMENT AND SUPPORT AT COMMENT BOX UNDER THIS ARTICLE)


Prastiti lucu
BalasHapussemangatt prasti 😁
BalasHapussemangat buat nulis lagi
BalasHapusprasti imut
BalasHapusSuksess
BalasHapusWish you all the best parstiii😻
BalasHapusPrastiii ucul banget 😂😂
BalasHapuscute
BalasHapuskawai prasti.... pengen cubit pipinya prasti yg masih kecil deh. kalau sekarang udah gak ada...(maksudku pipinya) (hehehe bercanda) ;).
BalasHapusprasti imut bgt...gemes dah sama prasti...
BalasHapusberuntung punya temen kayak prasti yang baik, pinter & ngangenin (hehehe)